BERENANG DI AIR DINGIN ATAU TIDUR DI DALAM API ?
Pada suatu kali, ada sebuah rumah yang dihuni oleh seorang pria muda. Pria itu tidurnya nyenyak sekali di dalam rumah tersebut karena dia sangat kelelahan. Sewaktu ia sedang tidur, rumahnya terbakar. Api mulai membesar dan menghanguskan sebagian rumahnya dan terus menjalar menuju kamarnya. Rumahnya menjadi panas sekali. Namun, anehnya pria itu tertidur pulas karena ia sedang bermimpi. Di dalam mimpinya, pria itu sedang berenang di air yang dingin dan udara yang sejuk sekali. Pria ini sangat menikmati mimpinya, air dingin dan udara sejuk sekali tetapi ia tidak tahu dan tidak sadar kalo rumahnya sedang terbakar.
Apakah sesunguhnya pria itu tidak mau keluar dari rumahnya yang terbakar ? tentulah ia mau keluar kalau saja ia tahu rumahnya sedang terbakar. Apakah pria itu tahu bahwa rumahnya terbakar ? ia tidak tahu. Kenapa ia tidak tahu ? karena mimpinya merajalela akan kemauannya. Di dalam mimpinya ia sedang berenang di air yang sejuk, jadi mimpinya terus memaksa ia ayo berenang lagi dan lagi.
Jika keadaan ini terus berlanjut maka akan terjadi konflik.
Berenang di air sejuk atau fakta api yang sedang dan akan menghanguskan dia.
Pada situasi ini ia tidak bisa mengambil keputusan karena ia sudah tidak punya banyak waktu dan tidak mungkin lagi karena api sudah merajalela. Meski pun keputusannya masih berfungsi, tetapi ia tidak bisa karena keputusan harus diambil dalam keadaan SADAR.
Di luar rumahnya, salah seorang sahabatnya sadar akan kebakaran tersebut dan memanggil-manggil namanya. Namun, ia tidak mendengarnya, bukan karena telinganya rusak tetapi ia sedang menikmati berenang di air sejuk di dalam mimpinya. Mata dan telinganya seakan tidak bekerja. Tidak dapat melihat atau mendengar karena ia ketiduran.
Suara sahabatnya terus terdengar memanggil-manggil namanya, suara itu berkata "keluarlah dari rumah itu, kamu pasti akan mati". Ketika mendengar kalimat tersebut, terjadi pergolakan besar dalam mimpi pria tersebut.Namun, karena ia masih di dalam mimpi, ia tidak menghiraukan suara sahabatnya.
Ilustrasi ini di sadur dari Khotbah Pdt. DR. Stephen Tong dalam respon jawabannya terhadap pertanyaan " mengapa Allah membiarkan Adam dan Hawa jatuh dalam dosa ?"
Secara ilustratif inilah kondisi kami orang Papua saat ini. Suara yang memanggil adalah Suara Injil. Injil menyadarkan manusia betapa malangnya hidup manusia diluar Injil.
Papua Tanah Injil, Papua dibuka dengan Injil. Apakah orang Papua hidup berdasarkan Injil ?
Gereja tidak boleh berhenti menginjili. Injil harus terus diberitakan untuk menyadarkan orang-orang Papua dari hal-hal yang membuat mereka tertidur pulas selama ini. Seperti mimpi sedang berenang di air dingin, padahal faktanya rumah kami sedang kebakaran luar biasa.
sebuah perenungan dari tanah rantau.
Penang - Malaysia 2019
Sumber gambar : google images

Komentar
Posting Komentar